-->

Eko Hartanto, Bukan Polisi Biasa

Editor: mediaselektif.com author photo

MEDIASELEKTIF.COM - Iklim kerja di Polres Lhokseumawe, berubah sejak setahun silam. Senin sampai Sabtu, polisi dilarang berpergian. Fokus melayani. Praktis, hanya di hari Minggu, polisi disana bisa santai. Merubah polisi biasa di luar menjadi luar biasa.

"Selebihnya (mulai Senin - Sabtu), kerja. Kita terapkan program kerja rutin yang ditingkatkan,"sebut AKBP Eko Hartanto SIK MH, Kapolres Lhokseumawe, belum lama ini. 

Dia pun mengurai perubahan pola kerja yang diterapkannya sejak setahun lalu itu. Tatkala putra kelahiran Pati, Jawa Tengah, itu menginjakkan kaki di kota yang dulu berjuluk Petrodolar, perubahan etos kerja pun ditabuh. 

Hal-hal kecil, semisal meniadakan waktu santai untuk melayani masyarakat, diberlakukan. Personel di pos piket jaga gerbang masuk Mapolres, misalnya, diwajjbkan setiap jamnya membunyikan lonceng. "Jadi nggak ada kesempatan tiduran bentar atau ngapainlah. Karena ada tugas bunyikan lonceng tiap jamnya,"kata Eko.

Week end pun wajib standby. Personel tidak diizinkan berpergian. Diharuskan bekerja memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk pengetatan jam kerja itu, Eko menerapkan punish dan reward.

 "Personel yang macem-macem, saya kasih sanksi. Tapi bagi yang betul-betul disiplin, saya apresiasi. Mas liat kan tadi di lobi Polres, terpampang foto personel yang rajin dan dapat reward,"ucapnya.

Di lobi, di belakang meja resepsion, ada dinding sekira seukuran 3x3 meter,  berjejer puluhan foto personel terbaik. Setiap bulannya, foto itu bertambah dan berganti. 

Di sebelah kanan lobi, terpampang foto-foto Kapolres Lhokseumawe dimasanya. Persis di depannya, berjajar foto Eko ketika menyambangi para ulama kharismatik Aceh.

Kebiasaannya memuliakan ulama diabadikan disitu. Selama setahun, sedikitnya 35 ulama kharismatik Aceh, dikunjunginya.

"Untuk sekadar silaturahim, mas. Mohon doa dari para ulama, agar Aceh, khususnya Lhokseumawe, tetap aman dan kondusif,"ucap mantan Kasat Reskrim Polrestabes Medan itu.

Dia mengaku, tak cuma menyambangi para ulama yang berdiam di Lhokseumawe saja. Ke daerah lain pun, ia datangi. "Selain memburu para penjahat dan melayani masyarakat, saya kan juga punya kewajiban memuliakan ulama lewat silaturahim-silaturahim ke rumah mereka, mas,"sambung Eko, sambil menyebut tingkat kriminalitas tertinggi di Lhokseumawe didominasi kasus curanmor

Dari situ, Eko mengaku mengenal lebih dekat para ulama. Selain itu, memperoleh ilmu agama yang selama ini luput dipelajari dalam perjalanan karirnya. 

Menegakkan disiplin kerja sudah, pun  memuliakan ulama terus dibuatnya. Eko, merasa itu belum lengkap. Memerhatikan nasib orang susah kembali menjadi prioritasnya.

"Masih banyak saudara-saudara kita di wilkum saya yg masih belum beruntung, mas. Hidup di bawah garis kemiskinan,"sebut Eko.(Rel/MSC)

Share:
Komentar

Berita Terkini