MEDIASELEKTIF.COM - Dinamika tingkat partisipasi di Kota Medan menunjukkan suatu pola yang progresif fluktuatif yang menggambarkan tingkat partisipasi yang bergerak cukup dinamis dan progresif.
Namun tetap menampilkan pola yang konsisten, di mana tingkat partisipasi pemilihan kepala daerah selalu lebih rendah dari tingkat partisipasi pemilu yang bersifat nasional.
"Pola ini tampaknya cendrung berulang pada fase pemilu dan pemilihan yang sama. Perlu ada upaya atau treatmen khusus untuk memacu tingkat partisipasi pemilih di Kota Medan agar semakin membaik," ujar Koordinator Divisi SDM, Parmas dan Sosdiklih KPU Medan Edi Suhartono kepada wartawan ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/8/2021).
Menurutnya, paling tidak untuk mengurangi daerah cekungan yang menggambarkan grafik partisipasi yang cendrung rendah. "Semoga trend infografik tingkat partisipasi pemilih yang ada masih bisa berubah menuju ke arah yang lebih baik pada Pemilu dan Pemilihan yang akan datang," ungkapnya.
Dipaparkannya, pada Pemilu Presiden tahun 2004 kehadiran pemilih di TPS menunjukkan angka partisipasi yang variatif antara putaran I maupun II, yakni 66.56 persen dan 62.59 persen.
Dilanjutkannya pada Pemilu Presiden 2009, partisipasi pemilih mencapai 52.35 persen, ada selisih 10,24 persen lebih rendah dari Pemilu tahun 2004.
Lalu pada Pemilu Presiden tahun 2014, partisipasi pemilih mencapai 55,59 %, terdapat kenaikan 3,24 % dari Pemilu tahun 2009. Pada Pemilu Presiden tahun 2019 kehadiran pemilih di TPS sebanyak 74.20 %, selisih kenaikan 11,61 % dengan Pemilu Presiden tahun 2004 putaran II.
"Tampilan angka partisipasi pemilih pada setiap Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden relatif tinggi. Jika pada tahun 2004 angka partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif yakni 78.21 % sedangkan pada tahun 2019 angka partisipasi pemililih yang tinggi terlihat pada Pemilu Presiden yakni mencaoai 74.20 %. Artinya selama 15 tahun terakhir (2004 – 2019) ada pola yang menggambarkan trend kenaikan angka partisipasi pemilih atau kehadiran pemilih ke TPS pada setiap Pemilu atau Pemilihan di Kota Medan.
Kesimpulan bahwa pada saat berlangsungnya Pemilu Presiden maupun Pemilu Legislatif, pemilih di Kota Medan cendrung menunjukkan angka partisipasi yang tinggi walau tetap saja tidak sampai mencapai target secara nasional. Sepertinya pola ini akan kembali berulang pada momentum Pemilu yang sama, yakni Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden pada masa masa yang akan datang," ungkapnya.
Menurutnya, sebaliknya pada Pemilihan Kepala Daerah, baik Pilgub maupun Pilwako, trend angka partisipasi dan kehadiran pemilih di Kota Medan cendrung mengalami penurunan secara tajam. Dari matriks dan infografis yang ada terlihat bahwa trend angka partisipasi pemilih tidak pernah mencapai angka 60 %. Artinya masyarakat tidak begitu tertarik atau tidak peduli dengan Pemilihan kepala daerah, baik itu Gubernur maupun Walikota.
Dari beberapa kali pemililihan Gubernur dan Wakil Gubernur maupun Walikota dan Wakil Walikota angka kehadiran pemilih ke TPS cendrung mengalami penurunan.
"Pilwako tahun 2005, angka partisipasi mencapai angka 54.70 %. Ini merupakan angka partisipasi yang cukup tinggi selama berlangsungnya Pilwako di Kota Medan pada 15 tahun terakhir. Namun, pada Pilwako 2010 yang berlangsung dua putaran, angka partisipasi pemilih mulai menurun. Pada putaran I angka partisipasi pemilih sebesar 35.68 % dan pada putaran II sebesar 38.28 %. Pada Pilwako tahun 2015 angka partisipasi pemilih di Kota Medan menunjukkan penurunan yang semakin tajam, yakni 25.38 %, terendah dalam sejarah Pemilihan di Indonesia sehingga Kota Medan mendapat sorotan secara nasional terkait rendahnya partisipasi pemilih. Episode Pemilihan selanjutnya adalah Pilwako tahun 2020 yang berlangsung ditengah merebaknya bencana nonalam Pandemi Covid 19, dan Pilwako Medan 2020 sukses digelar dengan capaian angka partiisipasi pemilih sebesar 45.80 %.
Sebuah capaian angka partisipasi yang diluar dugaan sama sekali. Ada selisih kenaikan sebesar 20.42 % dari Pilwako tahun 2015. Selisih kenaikan ini termasuk 5 besar di Indonesia berdasarkan catatan KPU RI. Meski tidak mencapai target nasional sebesar 77.5 %, namun angka partisipasi pemilih di Pilwako Medan tahun 2020 merupakan sebuah sukses luar biasa ditengah penyelenggaraan Pilkada yang berlangsung ditengah Pandemi Covid 19 masih merebak.
Lebih lanjut disampaikannya, dinamika angka partisipasi Kota Medan pada 15 tahun terakhir menunjukkan pergerakan yang cukup menarik untuk dicermati. Paling tidak dari matrik dan infografik yang tergambar di atas, terlihat ada pola yang cendrung berulang sehingga grafik menampilkan pola melandai di bagian tengah sebagai pertanda rendahnya grafik angka partisipasi. Sementara di bagian sisi kanan dan sisi kiri grafik, tampilan grafik cendrung meninggi dan hampir merata.
Sehingga secara umum terlihat, pergerakan grafik menampilkan pola dari tinggi ke rendah dan berhenti di titik tengah. Pemilu tahun 2013, sebagai pusat median, dan berada ditengah kemudian secara perlahan tapi pasti, grafik mulai menunjukkan kenaikan secara baik, meski kemudian menurun secara ekstrem di pada Pemilihan Walikota tahun 2015. Namun pada 3 momentum Pemilihan berikutnya, tepatnya pada Pilgub 2018, grafik menaik tajam . "Trend ini terus menaik dan cendrung sejajar di tahun 2019," paparnya. (Ir/MSC)
