Ngobrol Bareng Legislator: Pejuang Anti-Hoaks di Dunia Digital

Editor: mediaselektif.com author photo

MEDIASELEKTIF.COM - "Ngobrol Bareng Legislator" dengan tema yang krusial, yaitu "Menjadi Pejuang Anti-Hoaks di Dunia Digital", yang dilaksanakan pada tanggal 27 April 2024. Kegiatan ini merupakan upaya kolaboratif antara Direktorat Jenderal Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Komisi I DPR RI. 

Dalam suasana webinar yang penuh semangat, peserta dari Kabupaten Bogor terlibat aktif dalam diskusi melalui platform Zoom. Hoaks atau informasi palsu telah menjadi perhatian serius di era digital saat ini. 

Fenomena ini meresahkan karena dapat mengacaukan opini publik, memengaruhi keputusan politik, dan bahkan membahayakan keamanan dan stabilitas sosial. Di Indonesia, penyebaran hoaks menjadi masalah yang semakin serius seiring dengan pertumbuhan internet yang pesat dan penggunaan media sosial yang meluas.

H. Anton Sukartono Suratto, M.Si selaku anggota Komisi I DPR RI dalam keynote speech nya mengatakan bahwa faktor utama dari penyebaran hoax adalah kurangnya literasi masyarakat terhadap informasi yang beredar. 

“Rendahnya literasi digital menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan masyarakat terpengaruh oleh berita hoaks. LIterasi digital mengacu pada pemahaman dan kemampuan dalam memanfaatkan dan mengevaluasi informasi yang diperoleh melalui ruang digital,” sebut H. Anton Sukartono Suratto, M.Si.

Anggota Komisi I DPR RI itu pun berharap agar masyarakat mampu meningkatkan kesadaran dan pemahaman dalam memanfaatkan ruang digital dengan bijak dan bertanggung jawab melalui 4 kerangka dasar literasi digital. 

Diantaranya: 

1. Kemampuan penggunaan layanan digital (digital skills)

2. Etika dalam ruang digital (digital ethics)

3. Keamanan digital (digital safety) 

4. Membangun budaya digital (digital culture)

Dampak penyebaran hoaks terhadap kehidupan sosial dan politik tidak bisa diremehkan. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa pada tahun 2020 saja, terdapat lebih dari 1.000 hoaks terkait COVID-19 yang beredar di Indonesia. 

Hal ini bukan hanya membingungkan masyarakat, tetapi juga mengganggu kepercayaan terhadap informasi resmi pemerintah dan menimbulkan kepanikan yang tidak perlu. 

Pakar Ilmu Perilaku dan Promosi Kesehatan, Surotul Ilmiyah, SKM, MKM, PhD menyoroti tentang maraknya penyebaran hoax terkait Covid-19 yang lalu. Ilmi mengatakan bahwa distribusi sumber informasi berita hoax ini ternyata memang yang paling tinggi adalah media sosial. 

“Media sosialnya apa saja ternyata yang paling besar di sini adalah Facebook, kemudian YouTube, kemudian Twitter, Tik Tok dan juga WhatsApp. Ini mungkin karena Tik Tok masih baru tapi perkembangannya juga sangat pesat sekal,” ungkap Surotul Ilmiyah. 

Peran Legislator dalam Penanggulangan Hoaks Legislator memiliki peran penting dalam menanggulangi penyebaran hoaks dan memperkuat integritas informasi di dunia digital. Mereka memiliki kewenangan untuk merumuskan kebijakan dan undang-undang yang memperketat pengawasan terhadap penyebaran hoaks serta meningkatkan literasi digital masyarakat.

Penanggulangan hoaks membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pendidikan dan kampanye kesadaran publik tentang bahaya hoaks menjadi kunci dalam menanggulangi masalah ini. Selain itu, meningkatkan literasi digital di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran hoaks.

Tokoh Pemuda Kabupaten Bogor, Ibnu Sakti Mubarok yang juga hadir sebagai narasumber mengatakan bahwa hoax adalah salah satu produk yang tidak memiliki kredibilitas. 

“Sesuatu yang tidak Kredibel ini kan lahir dari sesuatu yang tidak memiliki fakta dan sesuatu yang memang diragukan ke aslian daripada tulisan-tulisan tersebut sehingga kami harapkan tentunya sebagai menjadi pejuang anti hoax dunia di dunia digital kita harus benar-benar bisa memverifikasi, mana yang memang tulisan memiliki pertanggungjawaban ataupun referensi-referensi tertentu dan juga mana yang memang tidak memiliki referensiasi tertentu agar tidak mudah kita memakan secara mentah-mentah konten berita tersebut,” kata Ibnu.

Webinar "Ngobrol Bareng Legislator" ini bertujuan untuk menjadi forum diskusi yang efektif untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya hoaks dan merumuskan langkah-langkah konkret dalam menanggulangi masalah ini. Dengan melibatkan legislator, pakar, dan masyarakat luas, diharapkan tercipta sinergi yang kuat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan hoaks di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga integritas informasi di era digital. Melalui kolaborasi antara pemerintah, legislatif, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menjadi lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan hoaks di masa mendatang.(Rel/MSC)

Share:
Komentar

Berita Terkini