Maraknya Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Pendidikan, Bagaimana Institusi Pendidikan Seharusnya Menjadi Ruang Aman?

Editor: mediaselektif.com author photo

Penulis Yudika Phareta Simorangkir dari Nirmala Publisher

MEDIASELEKTIF.COM - Belakangan ini kabar kasus pelecehan seksual di Indonesia tidak lagi jarang terdengar, bahkan menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, setiap tahunnya selalu ada. 

Mirisnya, kini pelecehan seksual tidak hanya ditemui di lingkungan rumah tangga, tetapi juga di lingkungan pendidikan, seperti sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi. 

Realitas yang sangat menampar ini seharusnya mendorong kita untuk terus menyuarakan hak korban dan melakukan sesuatu agar peristiwa seperti ini tidak terulang dan semakin masif. 

Melihat urgensi tersebut, Salman Al Farici, lulusan Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2026, sekaligus Youth Advocate dalam United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women (UN Women) Indonesia, membentuk sebuah program bernama “Boneka Kita” yang merupakan Child Education Initiative, dengan tagline “Empowering North Sumatra’s Youth with Culturally-rooted Sexual Education”. 

Program ini dibuat untuk mengedukasi siswa-siswi tentang literasi seksual dan kekerasan seksual dengan menciptakan ruang yang aman dan ramah anak. Pemikiran Salman yang menyatakan bahwa pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi penghuninya, mendorongnya untuk merealisasikan program ini. 

“Tidak ada cara lain selain belajar, karena masyarakat kita masih banyak yang pemikirannya salah terutama terkait seksualitas,” jelas Salman. 

Dengan dukungan pelatihan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (Kemendukbangga RI) hingga United Nations Population Fund (UNFPA), Boneka Kita pertama kali direalisasikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Deli Serdang. 

Berbagai kegiatan diupayakan hingga tercipta lingkungan yang interaktif. Salman dan tim memaparkan edukasi terkait kekerasan seksual, mengenali ciri-ciri pelaku, hingga cara melindungi diri. 

Pendekatan yang digunakan juga menarik, mulai dari Focus Group Discussion (FGD), di mana para siswa akan diberikan suatu studi kasus dan mendiskusikannya bersama, hingga debat antarsiswa dengan topik yang relevan dengan kekerasan seksual untuk melatih mental dan pemahaman siswa-siswi akan pentingnya edukasi seksual sejak dini. 

Bekal edukasi yang diberikan kemudian akan disebarluaskan melalui Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM), Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), tenaga pendidik, serta ketua dan wakil ketua kelas, untuk diterapkan kepada seluruh siswa/i secara merata. 

Metode ini sudah dibuktikan secara konkret melalui survei, dengan hasil bahwa kegiatan ini terbukti efektif dan mendapatkan respons yang positif dari pihak sekolah. 

“91% merasa bahwa ini adalah sosialisasi paling berdampak untuk mereka karena pendekatan dan metode yang jarang diterapkan,,” ujar Salman.

Keberhasilan program ini juga menunjukkan pentingnya menyesuaikan metode edukasi dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, dalam konteks ini siswa-siswi. 

Hal itu karena pendidikan seksual kerap dianggap sebagai topik yang sensitif untuk dibicarakan secara terbuka, terutama kepada anak-anak. Oleh karena itu, Boneka Kita berupaya menghadirkan ruang belajar yang lebih nyaman agar siswa dapat memahami materi tanpa merasa takut atau canggung untuk bertanya. 

Melalui diskusi dan bertukar pendapat, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk mengenali situasi yang berpotensi membahayakan diri mereka serta memahami langkah yang dapat dilakukan untuk mencari pertolongan. 

Selain itu, bagi Salman dan tim, edukasi seksual juga perlu dipahami sebagai upaya pencegahan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar tidak berhenti sampai di sini. 

Lewat Proyek Boneka Kita, Salman membuka mata masyarakat bahwa lingkungan pendidikan sudah selayaknya menjadi ruang aman bagi setiap civitasnya. 

Harapannya, gerakan ini mendorong partisipasi lebih dari pihak pemerintah dan institusi pendidikan untuk menggencarkan edukasi terkait kekerasan seksual agar tercipta ruang yang aman dan nyaman.(Rel/MSC)


Share:


Komentar

Berita Terkini