![]() |
| Sumber Gambar: Peta Indonesia Kompas.com |
Penulis: Yandi Syaputra Hasibuan, S.S., M.A
MEDIASELEKTIF.COM-Perkembangan ilmu sejarah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kembali memperoleh perhatian luas, baik di lingkungan akademik maupun di ruang publik.
Penerbitan Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dalam sepuluh jilid oleh Kementerian Kebudayaan pada Desember 2025 sering dibaca sebagai penanda bahwa historiografi Indonesia tengah mengalami kebangkitan. Dari sisi kuantitas produksi pengetahuan, optimisme ini tentu dapat dipahami. Namun, di balik euforia tersebut, terdapat persoalan mendasar yang jarang dikritisi secara serius: paradigma historiografi yang terus direproduksi.
Sejak Seminar Sejarah Nasional 1957 di Yogyakarta, sejarah Indonesia secara sadar ditulis dari perspektif orang-orang Indonesia. Historiografi Indonesiasentris lahir sebagai koreksi terhadap dominasi kolonial-sentrisme dan bertujuan menempatkan orang Indonesia sebagai aktor utama sejarahnya sendiri. Dalam konteks itu, gagasan ini memiliki nilai emansipatoris yang penting. Masalah muncul ketika historiografi Indonesiasentris membeku
menjadi satu-satunya horizon penulisan sejarah yang dianggap sah. Dalam praktiknya, paradigma ini berkembang sebagai historiografi yang sangat antroposentris. Sejarah direduksi menjadi kisah manusia: politik kekuasaan, heroisme nasional, konflik elite, dan dinamika sosial. Alam-hutan, hewan, tanah, air, iklim-hampir selalu hadir hanya sebagai latar pasif, bukan sebagai bagian dari proses sejarah itu sendiri. Buku-buku sejarah resmi yang terbit belakangan pun, alih-alih menawarkan terobosan, masih bergerak dalam kerangka serupa.
Akibatnya, imajinasi historis masyarakat Indonesia dibentuk oleh keyakinan bahwa segala gerak sejarah ditentukan sepenuhnya oleh kehendak manusia. Sejarah lalu dipahami semata-mata sebagai urusan ekonomi, politik, dan sosial, sementara relasi manusia dengan alam nyaris tidak memperoleh tempat yang layak. Padahal, kehidupan manusia tidak pernah berlangsung di ruang hampa ekologis. Negara, masyarakat, bahkan nasionalisme tumbuh dan berubah dalam interaksi yang terus-menerus dengan lingkungan alam. Fenomena ini tampak jelas ketika bencana ekologis terjadi. Banjir
besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada November 2025, misalnya, seketika melahirkan ledakan wacana lingkungan. Publik ramai membicarakan deforestasi, tambang ilegal, dan kerusakan daerah aliran sungai. Seruan untuk menjaga alam dan hidup hijau pun menggema. Namun, kesadaran semacam ini hampir selalu bersifat reaktif dan temporer, hadir ketika bencana datang, lalu menghilang setelahnya. Sesungguhnya, alam tidak pernah menagih apa pun kepada manusia.
Sebaliknya, manusialah yang sejak lama memosisikan alam sebagai entitas yang “berutang” dan karena itu sah dieksploitasi tanpa batas. Cara pandang ini tidak lahir secara alamiah, melainkan dibentuk melalui narasi sejarah yang menempatkan manusia sebagai pemegang otoritas mutlak atas bumi. Historiografi, dalam hal ini, ikut berperan membentuk imajinasi eksploitatif tersebut.
Di titik inilah historiografi Indonesiasentris layak disebut arogan-bukan karena niat awalnya, melainkan karena ketidakmampuannya keluar dari pusat manusia. Alam baru diakui keberadaannya ketika ia “mengamuk”: banjir, longsor, wabah, atau krisis iklim. Setelah itu, kesadaran ekologis kembali memudar dan eksploitasi berjalan seperti biasa. Bahkan, kritik terhadap perusakan lingkungan kerap disindir sebagai sikap berlebihan, seolah kepedulian ekologis adalah ancaman bagi pembangunan. Karena itu, historiografi Indonesia perlu bergerak melampaui kebekuan ini.
Arah baru historiografi Indonesiasentris tidak cukup hanya memindahkan pusat cerita dari Belanda ke orang Indonesia, tetapi juga harus membuka ruang bagi alam sebagai agen sejarah. Hewan, tumbuhan, hutan, penyakit, dan iklim bukan sekadar latar, melainkan bagian dari proses historis yang membentuk masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Sejarah Indonesia sebenarnya sarat dengan contoh relasi manusia alam: eksploitasi hutan damar, perburuan harimau Jawa dan Sumatra, pemanfaatan gajah sebagai tenaga kerja, hingga perusakan ekologis berskala besar pada masa kolonial.
Semua itu menunjukkan bahwa alam selalu hadir dalam sejarah Indonesia, hanya saja jarang diakui secara serius dalam historiografi arus utama. Negeri ini telah lama dieksploitasi untuk kepentingan akumulasi modal di luar dirinya. Karena itu, sebagai orang Indonesia, melanjutkan tradisi eksploitatif tersebut seharusnya menjadi sesuatu yang secara moral tidak dapat dibenarkan.
Bukan berarti alam tidak boleh dimanfaatkan. Namun, pemanfaatan harus dibatasi oleh kesadaran etis dan historis. Ketamakan manusia tidak pernah mengenal kata cukup; bahkan satu dunia pun tidak akan mampu memuaskan ambisi segelintir orang. Di sinilah historiografi memikul tanggung jawab penting: bukan hanya merekam masa lalu, tetapi juga membentuk cara manusia memahami relasinya dengan alam di masa kini dan masa depan.
Daftar Bacaan:
Boomgaard, Peter. Frontiers of Fear: Tigers and People in the Malay World, 1600–1950. Yale University Press. Boomgaard, Peter. Southeast Asia: An Environmental History. ABC-CLIO. Scott, James C. Seeing Like a State. Yale University Press. Peluso, Nancy Lee. Rich Forests, Poor People. University of California Press. Dove, Michael R. The Banana Tree at the Gate. Yale University Press. Klinken, Gerry van (Ed). 2025. Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Jakarta: YOI. Worster, Donald. Nature’s Economy: A History of Ecological Ideas. Cambridge University Press.McNeill, J.R. Something New Under the Sun. W.W. Norton.
