Menorehkan Jejak Pengabdian FK USU di Pulau Nias, Memangkas Pemahaman Lama

Editor: mediaselektif.com author photo

MEDIASELEKTIF.COM - Sejumlah dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan pengabdian media kepada masyarakat di Tano Niha, Pulau Nias, khususnya di Kabupaten Nias Utara. Kegiatan ini merupakan kerja sama Fakultas Kedokteran USU dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. 

Selama tiga bulan sejak Maret 2026, para dokter muda ini mengabdi di sejumlah rumah sakit di wilayah yang lahir dari pemekaran Kabupaten Nias tahun 2008 Beribukotakan Lotu, wilayah ini berada paling utara Pulau NiasNias dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sisi utara dan barat.

Selama tiga bulan bertugas, para dokter muda ini mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Salah satunya seperti yang diceritakan dr Trinidia Lubis M Ked (OG) PPDS.

Trinidia bersama beberapa temannya sesama PPDS FK USU ditempatkan pada wilayah yang berbeda. Ia bertugas di RS dr M Thomsen Gunungsitoli rumah sakit rujukan utama di Kepulauan Nias.

Sementara teman-temannya yang lain dr Ricky Bonatio Hutagalung, dr Devinda Villarsi, dr Edgar Anthony Petra Sihite dan dr Margareth Duma Sari Sirait bertugas di RS Tafaeri, Lotu, Kabupaten Nias Utara.

“Untuk menjangkau Kota Lotu, penerbangan dimulai dengan pesawat kecil dari Kota Medan, berakhir dengan sedikit mendebarkan sekaligus mengesankan di Bandara Binaka, Kawasan Gido, sekitar 30 menit berjarak dari Kota Gunungsitoli. Udara khas pulau menyambut dengan aroma laut yang samar dan hangat, berbaur wangi tanah tropis,” kata Trinidia sebagaimana siaran pers USU, Rabu (8/7/2026)

Perjalanan menuju Lotu, kata Trinidia, melintasi Kota Gunungsitoli dilanjutkan dengan mobil, menyusuri jalan beraspal yang membelah perkampungan kecil berpagar pohon kelapa, dengan rumah-rumah sederhana,  ruko-ruko setengah permanen, bangunan tua atau rumah panggung yang lekat dengan arsitektur masa lampau.

Bagi masyarakat Nias Utara, kesehatan dan infrastruktur adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Sebelum berbagai pembangunan dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, kondisi jalan antar wilayah yang belum sepenuhnya baik membuat sebagian warga harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai fasilitas kesehatan rujukan.

Kondisi geografis yang tersebar juga memengaruhi akses terhadap tenaga medis spesialis. Banyak pasien yang sebelumnya harus dirujuk ke Kota Gunungsitoli atau bahkan ke Medan untuk memperoleh layanan kesehatan lanjutan.

Tantangan-tantangan

Para dokter mengaku menghadapi tantangan. Para dokter yang didampingi tim program studi dan fakultas, PPDS dari bidang Ilmu Penyakit Dalam, Obstetri dan Ginekologi, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Patologi Klinik tersebut diserahterimakan ke rumah sakit penempatan masing-masing.

Para dokter muda tersebut semula membayangkan akan menghadapi tantangan yang mencemaskan. Keterbatasan fasilitas, sulitnya komunikasi dengan pasien, hingga rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan kesehatan modern, adalah bayangan yang berkecamuk di pikiran.

“Namun kenyataan yang dihadapi di lapangan, justru tidak semenyeramkan itu. Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan, ternyata tidak demikian. Ada beberapa kendala untuk komunikasi dengan para pasien yang umumnya menggunakan bahasa daerah, namun itu bisa diatasi dengan bantuan para perawat yang membantu menerjemahkan dan keluarga pasien yang cukup kooperatif,” tutur dr Trinidia

Para pasien lanjut usia umumnya memang hanya mampu berbahasa Nias dan tidak memahami bahasa Indonesia. Namun hambatan tersebut dapat diatasi berkat peran tenaga kesehatan setempat yang menjadi jembatan komunikasi antara dokter dan pasien.

Selama menjalani residensi, para dokter PPDS bertugas di berbagai unit pelayanan, mulai dari poliklinik, instalasi gawat darurat (IGD), hingga ruang operasi.

Di RSUD dr M Thomsen Gunungsitoli, jumlah kasus yang ditangani pada bagian obgyn tergolong tinggi. Dalam satu bulan rumah sakit ini dapat menangani sekitar 35 operasi sesar (Sectio Caesarea) dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim.

Padahal, dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas hanya dua orang, dengan salah satunya yang telah mendekati masa pensiun. Kondisi tersebut tentu membuat kebutuhan akan tenaga dokter spesialis menjadi semakin mendesak.

Meski demikian, tantangan terbesar justru bukan dari banyaknya pasien yang harus ditangani, melainkan keterbatasan sistem penunjang pelayanan kesehatan. Di mana salah satu persoalan paling krusial adalah ketersediaan darah.

“Operasi obstetri itu sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja. Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah. Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr Trinidia.

Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun bagi pasien yang mengalami perdarahan hebat saat persalinan, setiap menit menjadi penentu keselamatan jiwa. Keterbatasan juga dirasakan pada layanan penunjang diagnostik.

Untuk pemeriksaan patologi anatomi, misalnya, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis sehingga setiap sampel biopsi harus dikirim ke Medan. Akibatnya, proses penegakan diagnosis penyakit, termasuk dugaan kanker, membutuhkan waktu lebih lama. Persoalan berikutnya muncul ketika pasien membutuhkan penanganan subspesialis yang belum tersedia di Pulau Nias.

“Operasi obstetri itu sangat bergantung pada darah. Masalahnya, pelayanan bank darah tidak tersedia selama 24 jam. Setelah pukul 22.00 malam bank darah sudah tutup, padahal kasus gawat darurat bisa datang kapan saja. Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah. Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr Trinidia.

Dalam kondisi normal, keterbatasan tersebut mungkin tidak terlalu terasa. Namun bagi pasien yang mengalami perdarahan hebat saat persalinan, setiap menit menjadi penentu keselamatan jiwa. Keterbatasan juga dirasakan pada layanan penunjang diagnostik.

Untuk pemeriksaan patologi anatomi, misalnya, rumah sakit belum memiliki dokter spesialis sehingga setiap sampel biopsi harus dikirim ke Medan. Akibatnya, proses penegakan diagnosis penyakit, termasuk dugaan kanker, membutuhkan waktu lebih lama. Persoalan berikutnya muncul ketika pasien membutuhkan penanganan subspesialis yang belum tersedia di Pulau Nias.

Tidak sedikit pula pasien yang datang dari Kabupaten Nias Utara. Menariknya, bukan karena daerah tersebut kekurangan dokter. Karena di RSUD Tafaeri Nias Utara sebenarnya telah ditempatkan dokter PPDS Obgyn dan Anestesi dari FK USU.

Namun keterbatasan fasilitas, terutama belum tersedianya bank darah dan kemampuan ICU yang masih terbatas, membuat sebagian kasus harus dirujuk ke Gunungsitoli.

Selain itu, masih ada faktor kepercayaan masyarakat. Sebagian pasien memilih langsung menuju RSUD dr M Thomsen karena menganggap dokter yang baru bertugas di rumah sakit Tafaeri belum cukup berpengalaman.

Dalam satu bulan, sekitar enam hingga tujuh pasien dirujuk dari Nias Utara ke RSUD dr M Thomsen. Bahkan, ada pula pasien yang datang langsung tanpa melalui mekanisme rujukan sesuai prosedur.

“Padahal dokter PPDS yang ditempatkan di sana juga kompeten. Tetapi persepsi masyarakat masih menjadi tantangan,” Trinidia mengisahkan ulang kendala yang dihadapi temannya yang bertugas di Nias Utara.

Minim Stok Darah

Dari seluruh pengalaman selama bertugas di Nias, ada satu kisah yang paling membekas di ingatan Trinidia. Ketika seorang ibu datang ke rumah sakit pada dini hari dalam kondisi syok akibat mengalami perdarahan pascapersalinan.

Bayinya telah lahir sejak pukul 19.00 WIB,namun sang ibu tetap berada di rumah karena ditangani oleh seorang dukun beranak yang telah lama dipercaya keluarga. Ibu tersebut baru dibawa ke rumah sakit pada pukul 01.00 dini hari, tentu saja dalam kondisi yang sangat memburuk.

Saat tiba di IGD, tubuhnya telah pucat, tekanan darah tidak lagi dapat diukur, dan mengalami syok berat. Trinidia bersama tim medis lainnya segera melakukan tindakan penyelamatan. Luka berhasil ditangani. Sayangnya satu kebutuhan paling penting tidak tersedia, darah! Pelayanan darah telah tutup sejak pukul 22.00 WIB.

Cairan infus memang dapat diberikan untuk mempertahankan sirkulasi sementara, tetapi pada kasus perdarahan masif, darah tetap menjadi satu-satunya terapi utama yang mampu menyelamatkan nyawa. Meski seluruh upaya telah dilakukan, pasien akhirnya tidak dapat diselamatkan.

“Bukan karena kami tidak melakukan tindakan. Tetapi karena pada kondisi seperti itu pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya. Darah harus diganti dengan darah,” tandas Trinidia.

Kisah tersebut menjadi gambaran nyata bahwa tantangan pelayanan kesehatan di daerah kepulauan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas medis, tetapi juga faktor sosial dan budaya.

Kepercayaan masyarakat terhadap dukun beranak masih sangat kuat. Sebagian keluarga baru membawa pasien ke rumah sakit ketika seluruh upaya tradisional dianggap tidak lagi mampu membantu. Padahal, pada kondisi kegawatdaruratan obstetri, keterlambatan beberapa jam saja dapat menentukan hidup atau mati seorang ibu.

Saat ini Nias Utara memiliki 11 puskesmas rawat inap yang tersebar di seluruh kecamatan dan satu rumah sakit daerah, yaitu RSUD Tafaeri yang menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan kabupaten. Namun tantangan ketersediaan tenaga kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah, yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan seluruh wilayah.

Di Nias Utara, jarak tidak hanya diukur dalam kilometer. Ia dihitung dari berapa lama seorang ibu hamil harus menempuh perjalanan menuju rumah sakit, berapa biaya yang harus dikeluarkan keluarga untuk menemani anggota keluarganya berobat, dan seberapa cepat ambulans dapat mencapai desa-desa yang tersebar di antara bukit dan garis pantai.

Sebelumnya FK USU bersama RSUD Tafaeri dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara sebelumnya juga telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung di RSUD Tafaeri Desa Lolofaoso, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara, Maret 2026 lalu.

Pengabmas yang dilakukan oleh para dosen FK USU tersebut meliputi pemeriksaan antenatal dan ultrasonografi (USG) bagi ibu hamil, pemeriksaan/skrining batu empedu, pemeriksaan pemeriksaan Hb dan KGD sewaktu bagi masyarakat, serta pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri.

Dr Inke Nadia selaku ketua kegiatan menegaskan, tujuan dari digelarnya pengabdian masyarakat tersebut untuk memperkenalkan kepada masyarakat Nias Utara, di mana saat ini pelayanan kesehatan di RSUD Tafaeri tidak lagi hanya sebatas dokter spesialis anak, tetapi juga sudah didukung tenaga kesehatan dari Fakultas Kedokteran USU. (Ir/MSC)

Share:


Komentar

Berita Terkini